Setelah lengsernya Pak Suharto dari kursi kepresidenan orang-orang desa berpesta menebangi hutan. Kayu pada masa tersebut merupakan hal yang paling laris setelah kacang goreng ;p.
Ada banyak bos-bos kayu yang datang ke desa waktu itu. Minimal satu truk setiap hari mangangkut kayu. Kayu tersebut mayoritas dikrim ke daerah Jepara yag terkenal dengan Kota Ukir.
Kini, semuanya jadi ladang. Reboisasi yang dilakukan pemerintah kerap tak memenuhi harapan. Masalahnya masyarakat ada yang masih suka mencari kayu untuk dijual. Pohon jati yang baru berumur 5 tahun sudah ditebangi untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Polisi hutan tidak tidak bisa mencegah secara maksimal, bahkan 2 bulan lalu ada polisi hutan yang ditebas dengan kapak saat memergoki penebang kayu.
Ceritanya kurang lebih begini, saat itu ada 2 polisi hutan yang yang berpatroli. Mereka kemudian memutuskan untuk berpencar. Teman yang satunya mengatakan kalau dia mendengar suara seperti pohon ditebang via HT. Tak ada jawaban, kemudian yang satunya mencari. Nahas, polisi hutan tersebut mendapati temannya dengan usus terburai..
Kekosongan hutan saat ini mulai menampakkan efeknya di desa. Longsor, arah sungai yang berubah-ubah, dan erosi yang hebat menjadi masalah utama sekarang.
Sepertinya sudah tak mungkin desa Jragung menjadi hijau seperti dulu. Kata orang-orang tua, desa Jragung sebelum tahun 1995 masih banyak kera yang nyolong pisang penduduk, masih banyak ikan yang bisa ditangkap dengan tangan kosong, masih banyak kijang berkeliaran. Dan desa Jragung masih punya keindahan alami….
Semoga hutan kami tidak ditebangi lagi..
Berbagi
Oktober 15th, 2009
Kemarin saya tak sengaja mendengar percakapan ayah saya dengan seorang tamu di beranda rumah. Perbincangan tersebut mulanya santai-santai saja, kemudian setelah ngalor-ngidul pembicaraan tersebut sampai pada masalah anak-anak desa zaman sekarang -bukan anak muda-.
“Bocah sekarang kalau dilarang malah ngelawan”, ujar tamu ayah saya.
“Ancen kang, bocah sekarang tidak punya sopan seperti dulu”, ayah saya menimpali.
Begitulah sampai perbincangan malam itu selesai. Kesimpulan perbincangan tersebut membahas prilaku anak-anak kecil zaman sekarang.
Saat pulang kampung 2 bulan lalu saya iseng jalan-jalan di pagi hari saat jam berangkat sekolah. Saya ingin bernostalgia menapaki jejak-jejak yang saya buat di jalanan dulu. Saat saya hampir sampai di MTs tercinta, kurang lebih 100 meter dari sekolahan saya melihat anak berseragam putih-biru berjalan santai sambil nyusu geni (merokok). Miris dan sangat membuat saya kecewa. Ternyata, inikah kemajuan zaman?
Suatu kasus yang lucu dan tragis sampai ke telinga saya. Dia anak sekolah baru kelas 3 MTs waktu itu. Sudah merokok dan punya HP yang cukup ‘wah’. Mungkin dia sudah tak bisa memendam hasrat untuk menikmati kepulan dan dering sms HPnya, karena kehabisan uang dan ekonomi keluarga yang pas-pasan akhirnya mencuri ayam di tetangga desanya.
Langsung apes, dia dipergoki orang. Lebih apes lagi karena desa tersebut dekat dengan Koramil, dan akhirnya dilaporkan ke polisi. Digelandang dengan tuduhan mencuri ayam? Itu sebuah peristiwa.
Faktor-faktor dari keluarga menjadi sebab yang di bahas malam itu. Seperti yang umum diketahui oleh masyarakat Jragung, kalau anak diam di rumah membuat orang tua anak tersebut kurang nyaman.
“Nyebel-nyebeli,” beberapa keluarga mengusir anaknya yang tiduran di rumah dengan kalimat tersebut. Mereka lebih suka kalau anaknya bermain di luar rumah sampai magrib menjelang. Tak ada dorongan untuk belajar di setiap malamnya, mungkin karena anaknya kelelahan sepanjang hari itu karena bermain.
Jadi menurut Anda bagaimana seharusnya memperlakukan anak ndeso agar tetap mau belajar dan berakhlak sopan?
Berbagi
Oktober 12th, 2009
Suatu hal yang tak bisa diungkapkan dari hati adalah rasa syukur. Seberapapun membaca hamdalah tak bisa mewakili rasanya hati saat mendapatkan kenikmatan. Mungkin Anda tak bisa merasakannya, tapi sebagai orang yang di beri nikmat saya dapat merasakannya. Begitu halus, begitu dekat.
Terciptanya blog ini menjadi suatu kenikmatan bagi saya (semoga anda juga). Setelah beberapa hari yang lalu mendaftar di Dagdigdug saya menuggu email konfirmasi darinya. Malang, sampai dua hari saya tak mendapatkan konfirmasi tersebut. ‘Ah, mungkin dalam tahap pembangunan’ begitu pikir saya.
Saya tidak sengaja menemukan email konfirmasi tersebut di kotak spam gmail. ‘Oalah, ternyata nyasar ke situ toh. Untung belum dihapus spamnya’. Setelah mendapatkan email kesasar tersebut saya langsung mengaktifkannya. Maaf, mungkin teman-teman yang menginginkan kelahiran blog ini merasa menunggu agak lama.
Kenapa pilih Dagdigdug? mungkin ada teman-teman yang bertanya demikian. Saya memilih Dagdigdug karena Blog ini milik Indonesia. Pertimbangan lainnya adalah pemakai blog ini orang Indonesia yang saya harap nantinya mau bertukar pikiran. Daripada tukar pikiran dengan orang Malaysia Lebih enak tukar pikiran sama orang sendiri kan?
Baiklah, secara umum blog ini akan diisi dengan hal-hal sekitar desa Jragung, yang pastinya diharapkan mampu membuat perubahan yang lebih baik dari sekarang -setidaknya bertahan untuk tetap baik-. Saya sangat berterimakasih pada teman-teman yang mau berbagi ilmunya di blog ini.
Sampai jumpa di posting selanjutnya.
Berbagi
Oktober 12th, 2009